BTS - THE NOTES 1 [ IND TRANSLATE ]
HWA YANG YEON HWA : THE MOST BEAUTIFUL MOMENT IN LIFE
Penggalan
kenangan mengenai perasaan ditinggalkan, ketiadaan, penderitaan dan kegelisahan
dari sekumpulan anak-anak laki-laki dalam menghadapi takdir mereka.
KIM SEOKJIN – 2 Mei
Tahun 22
Apakah aku bisa
meluruskan semua kekeliruan dan kesalahan ini dan bisa menyelamatkan kami
semua? Aku tidak menangkap dengan lebih dalam makna dari pertanyaan ini. Memang
benar bahwa aku ingin menyelamatkan kami semua. Tak ada seorang pun yang pantas
untuk mati, putus-asa, tertekan, dan dibenci. Apalagi mereka adalah
teman-temanku. Kami mungkin memiliki kekurangan dan luka lama yang
berbelit-belit dan menyimpang. Kami mungkin bukan siapa-siapa. Tapi kami punya
kehidupan.
Kami punya
hari-hari yang harus dijalani…
Sebuah rencana
untuk diikuti, dan..
Sebuah mimpi
untuk dipenuhi.
Awalnya aku
tidak berpikir sejauh itu. Aku pikir semua ini bergantung kepada seberapa besar
usaha yang kulakukan setelah aku mengetahui siapa yang harus kuselamatkan dan
dari peristiwa apa. Begitu pikirku. Aku yakin bahwa aku bisa mengakhiri
semuanya dengan cara membujuk mereka dan merubah beberapa hal. Begitu lugu dan
naif-nya aku. Hal itu tidak lebih hanya untuk menyelematkan diriku sendiri. Setelah
beberapa percobaan dan kekeliruan, aku menyadari.
Bahwa tidak sesederhana
itu untuk menyelamatkan orang lain.
KIM NAMJOON – 17
Desember Tahun 21
Aku memperlambat
langkahku sampai akhirnya berhenti. Sekarang dini hari di sebuah desa terpencil
dimana bahkan bus saja jarang melewatinya. Seluruh pedesaan tertutupi hamparan salju
yang bercahaya yang turun sepanjang malam. Pepohonan membungkuk menyerupai
hewan putih raksasa dengan rambut yang berkibas tiap kali angin berhembus. Aku tahu
meski tidak melihat kebelakang bahwa hanya ada jejak kakiku di hamparan saju di
desa ini. Kedua kaki-ku sudah sejak dari tadi terasa basah dari sisi sol
sepatuku yang berlubang. Aku pernah mendengar sebuah pepatah bahwa Tuhan
membuat kita merasa kesepian sebagai jalan menuju diri-Nya. Tapi aku tidak merasa
kesepian. Aku tidak berjalan menuju diriku sendiri. Ini jalan mundur. Aku lari
dari diriku sendiri.
Keluarga ku tiba
di Desa ini saat musim gugur lalu. Barang-barang yang kami bawa semakin lama
semakin berkurang setiap kali kami pindah dari kota ke kota. Sekarang kami
hanya butuh angkutan kecil untuk pindahan. Kami tidak berada pada posisi dimana
dimana kami bisa memilih dimana kami tinggal. Hanya butuh dua hal. Pertama rumah
sakit untuk Ayahku, dan yang kedua majikan yang bisa menerima seorang pekerja
tanpa ijazah SMA.
Desa ini punya
keduanya. Bus kota yang hanya beroperasi dua kali dalam sehari berhenti di
depan rumah sakit pedesaan, dan sekumpulan warung-warung makan kecil berjajar
di sepanjang sungai di belakang perkotaan. Warung-warung ini menjual sup dan
gorengan ikan kecil yang didapat dari sungai tersebut, dan musim panas adalah
waktu tersibuk mereka. Orang-orang dari kota-kota terdekat berburu tamasya di
tepi sungai, dan tingkat permintaan layanan pesan-antar bagi mereka yang
tinggal di desa dan beristirahat di pegunungan sangatlah tinggi. Sepanjang musim
dingin, ketika sungai membeku para pemilik warung-warung makan tersebut
menggunakan persediaan ikan yang mereka tangkap pada saat musim panas. Tidak begitu
banyak turis yang datang seperti pada musim panas, namun permintaan layanan
pesan-antar tetaplah tinggi. Aku merupakan salah satu dari petugas layanan
pesan-antar.
Tentu saja disini
juga ada persaingan yang terjadi. Kebanyakan keluarga disini mencari nafkah
dari bertani, dan bisa ditebak bahwa kami tidaklah berkecukupan. Layanan pesan-antar
merupakan satu-satunya pekerjaan paruh-waktu yang tersedia di desa ini. Para pemilik
warung makan membuat kami bersaing satu sama lain.
“Bukankah normal
jika aku hanya ingin mempekerjakan yang terbaik?”
Bagi mereka
bukan masalah jika kami masih anak-anak dibawah umur dan tidak memiliki izin
mengemudi, dan mereka yang sudah diterima lebih dulu merasa lebih berkuasa. Hanya
sedikit dari anak-anak yang seperti itu, tapi mereka mengancamku dengan
perpeloncoan yang keras.
Saat musim
liburan, kompetisi itu bahkan menjadi lebih keras. Kami dengan sukarela dan
penuh persaingan menjalankan tugas dan bahkan membuang sampah dari warung makan
tersebut. Sikap pura-pura mereka (Pemilik) malah membuat kami semakin gigih. Namun,
tanpa disadari, kami (para pekerja) malah memiliki semacam rasa tenggang rasa yang
tercipta antara satu sama lain. Kami itu saingan, namun kami bersimpati pada
satu sama lain. Jika salah satu dari kami tidak masuk kerja, kami bertanya-tanya
apa yang terjadi. Mereka mengingatkanku akan saat-saat di SMA yang kuhabiskan
di ruang kelas yang beralih fungsi menjadi gudang penyimpanan. Beberapa dari
mereka mirip dengan Yoongi dan beberapa mirip dengan Jimin. Aku tidak bisa
tidak bertanya-tanya pada diriku sendiri, jika saja teman-teman SMA ku dulu
bertemu di desa ini, apakah kami juga akan saling berkompetisi.
PS: Comment jika kalian mau tahu kelanjutannya....
Translated by : Agapou-Nim
Original Source The Notes by Big Hit Entertainment


Komentar
Posting Komentar